Bearish IHSG Maret 2018

ihsg-bearish-7maret2018

Pada tanggal 2, 5, 6 dan 7 Maret 2018 selama 4 hari berturut – turut bursa Indonesia mengalami trend bearish bahkan IHSG turun ke bawah 6400, berikut ini catatan pergerakan IHSG dalam kurun waktu tersebut.

2 Maret 2018
Open : 6,597.710
Low : 6,561.045
High : 6,597.710
Close : 6,582.316

5 Maret 2018
Open : 6,594.809
Low : 6,543.661
High : 6,607.165
Close : 6,550.593

6 Maret 2018
Open : 6,577.179
Low : 6,492.951
High : 6,589.721
Close : 6,500.111

7 Maret 2018
Open : 6,500.964
Low : 6,346.665
High : 6,516.888
Close : 6,368.267

Dalam kurun waktu tersebut, saya berusaha mengumpulkan data-data yang mungkin menyebabkan IHSG terjun bebas.

Dari dalam negeri tidak ada permasalahan yang mungkin menyebabkan IHSG terjun, karena tahun 2018 ini sistem ekonomi Indonesia sedang dalam keadaan baik dan stabil. Beberapa penyebab yang mungkin menjadi penekan pergerakan IHSG adalah

  1. Pelemahan rupiah
    Pada saat artikel ini ditulis (8 Maret 2018), nilai tukar Rupiah terhadap US $ adalah Rp 13.792, bandingkan dengan nilai tukar pada 15 Februari 2018 yaitu Rp 13.558. Dengan pelemahan Rupiah, ini memicu investor untuk melakukan Pull Back sehingga dana asing yang keluar dari bursa lokal pun semakin meningkat.
  2. Rencana Presiden Donald Trump Menetapkan Tarif Impor Baja dan Aluminium
    Dengan rencana penetapan tarif impor baja 25% dan aluminium 10%, memang berdampak positif terhadap perekonomian Amerika. Karena pengusaha lokal terlindungi dari pengusaha asing. Namun, ini menciptakan suatu ancaman terhadap sistem perdagangan global. Sehingga dampak nya sangat berpengaruh terhadap bursa Asia. Berbagai bursa Asia pun turut bearish karena perencanaan tarif impor Amerika.
  3. Pergantian Pimpinan The Fed
    Jerome Powell sebagai pemimpin baru The Fed (The Federal Reserve) dalam pidatonya mengisyaratkan bahwa kenaikan suku bunga AS di tahun ini bisa lebih agresif. Dengan prospek kenaikan suku bunga AS, para investor akan melakukan penarikan dana untuk menunggu kebijakan suku bunga sebagai bahan diversifikasi portofolio investasi.
  4. Penurunan Kinerja Emitten Besar
    Faktor internal yang mempengaruhi penurunan IHSG dari dalam negeri adalah menurunnya kinerja emiten besar seperti Unilever Indonesia dan HM Sampoerna. Pada tahun 2017, pendapatan UNVR hanya bertumbuh 2,9%, sedangkan HM Sampoerna bertumbuh hanya 3,8%.
  5. Pembatasan Harga Jual BatuBara Lokal
    Dengan pembatasan harga jual batubara lokal, emiten yang bergerak dibidang usaha pertambangan batubara terkena dampaknya, karena dianggap prospeknya kurang cemerlang.

Namun, pada tanggal 8 Maret ternyata IHSG lompat dari posisi bearishnya mendaki posisi closing di 6,443.021.

Memang umumnya jika dilihat dari sejarah, dengan kestabilan ekonomi nasional biasanya posisi bearish karena isu eksternal tidak akan bertahan lama. Namun, patut diperhitungkan juga dengan nilai saham di bursa saat ini yang sudah terlampau tinggi. Sehingga tinggi nya nilai berbagai saham di bursah lokal ini patut diawasi karena masih berpeluang terjadinya koreksi.